Halaman

    Social Items

https://geekprepper.org/best-bushcraft-knifes-and-buyers-guide/

Youtube kini memegang peran penting sebagai rujukan utama di internet sebagai sumber untuk mendapatkan informasi apa saja dalam bentuk video. Segala yang kita butuhkan tersediadi Youtube. Video cara membuat sesuatu, cara melakukan sesuatu, musik, hingga kegiatan hobi apapun dapat kita akses dengan mudah. Termasuk hobi luar ruang seperti kegiatan berkemah, penjelajahan, pendakian, hingga kegiatan teknik bushcraft, survival dll.

Bushcraft pada masa awalnya berkembang luas di masyarakat dunia melalui acara-acara televisi pada saat itu. Juga melalui buku-buku yang ditulis oleh para pakar bushcraft, survival dan petualangan di alam bebas. Namun seiring berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, bushcraft juga mengalami kenaikan perkembangan trend melalui media berbagi video tersebut.

Perkembangan antusiasme terhadap bushcraft ini terlihat dari mulai berkembangnya akun channel youtuber (istilah untuk pengguna youtube) bertema bushcraft dan survival. Konten-konten dari channel-channel tersebut mulai dari perkenalan mengenai bushcraft, cara membuat atau melakukan berbagai kegiatan bushcraft, petualangan di alam bebas, hingga kisah gaya hidup bushcraft para youtuber yang sudah digeluti selama bertahun-tahun.

Begitu banyaknya channel youtuber yang memiliki konten tentang bushcraft di seluruh dunia dengan gaya, dan ciri khas nya masing-masing membuat bushcraft menjadi sebuah tontonan yang tidak hanya mengandung edukasi keterampilan hidup di alam bebas, namun juga menjadi sebuah refreshment kita di sela-sela kesibukan. Dengan menonton video berlatar belakang kesejukan alam bebas, kegiatan di hutan atau apapun yang berhubungan dengan hal tersebut selalu membuat pikiran kita menjadi segar kembali.

Berikut ini adalah Rekomendasi Channel Youtuber Bushcraft Berkualitas pilihan seberanda:

Joe Robinet

Joe adalah pria berkebangsaan Kanada yang memiliki channel youtube yang dinamai dengan namanya sendiri yaitu Joe Robinet. Dengan jumlah subscribers diatas 600k membuatnya menjadi youtuber yang cukup populer. Hampir seluruh pecinta bushcraft yang berkecimpung di Youtube pasti mengenal sosok yang terkenal dengan penampilan tattoo, piercing, dan gaya berpakaian semi military tersebut.

Sejak awal memulai upload video-videonyanya hingga kini, Joe konsisten dengan dokumentasi pengalamannya mempelajari segala macam teknik bushcraft dan survival seluruhnya beserta trial dan errornya. Hal ini ia lakukan agar viewer memahami betapa keadaan di lapangan akan menunjukkan segala kemungkinan kepada kita untuk berhasil atau gagal dalam membuat atau melakukan sesuatu.

Joe merupakan seorang ayah dan suami yang sangat menyayangi keluarganya. Scout juga termasuk anggota keluarganya, seekor anjing yang setia menemani di beberapa videonya. Kepribadiannya yang humble, low profile dan senyum lebarnya membuat viewer akan tertarik hanya pada beberapa menit awal menonton videonya pertama kali.

http://www.youtube.com/watch?v=3wNAkqbLVpA

 

 

TA Outdoors 

Channel ini dibuat oleh seseorang berkebangsaan Inggris yang bernama Mike Pullen. TA Outdoors memiliki kepanjangan Totally Awesome Outdoors. Dimana Mike juga memiliki channel lain yang bertema tentang hobi memancing bersama ayahnya yang bernama Graeme.

Dalam video-videonya di TAOutdoors, Mike mendokumentasikan kegiatan petualangan yang berfokus pada video berkualitas HD, berdurasi panjang, penjelasan rinci tentang segala hal yang dibahas. Tidak hanya di lokasi semak belukar, namun Mike juga mengeksplorasi wilayah lain seperti pinggiran jurang pantai dan gunung. Mike sering membuat video tentang tema memancing dan berburu. Beberpa kali juga dia berkolaborasi membuat piranti logam dengan Alec steele yang merupakan seorang youtuber pandai besi.

Dibalut dengan kalimat yang mudah dipahami dan sedikit selingan humor. Mike juga sering mengajak serta anjing peliharaannya Jaxx dalam videonya. Kini Mike sedang menyelesaikan proyek membangun Bushcraft basecamp. Basecamp tersebut akan dibangun selama tahun 2017 hingga 2018. Dengan menambah item-item bushcraft, membuat basecamp nya menjadi tempat yang sempurna.

  http://www.north60adventure.com/bushcraft-camp-full-super-shelter-build-from-start-to-finish/


Doug Outside

Doug Outside merupakan channel yang dimiliki oleh pria yang juga berkebangsaan Kanada. Doug merupakan teman dekat Joe Robinet. Mereka sering melakukan kolaborasi di beberapa videonya seperti melakukan petualangan menggunakan canoe, hiking dan sekedar melakukan overnight bushcraft. Sebagian besar video Doug adalah tentang petualangan solo nya menggunakan canoe, memancing dan membuat kerajinan ukiran.

Dengan kesibukan utamanya sebagai penjaga di sebuah Gereja besar di Kanada membuatnya harus mengatur jadwal pembuatan video outdoornya, karena dia mengakui kesulitan mencari waktu senggang untuk melakukan petualangan dan mendokumentasikannya di Youtube. Sehingga salah satu jalan keluarnya Doug tetap membuat video yang bisa dia kerjakan di rumah seperti kegiatan membuat kerajinan ukiran dan kegiatan membuat sesuatudari bahan kulit.

Dengan kepribadiannya yang terkesan pendiam dan misterius, Doug sering menunjukkan selera humornya yang absurd namun menggelitik. Doug juga terkenal dengan kebiasaan lucunya mengucapkan kata "so" secara berkali kali pada hampir tiap kalimat. Dia mengatakan kesulitan untuk menghilangkan kebiasaan tersebut.

https://www.youtube.com/watch?v=-W7KBCFeFQc


MCQBushcraft

Cannel ini dimiliki oleh seseorang berkebangsaan Inggris yang bernama Michael McQuilton. Mike sudah memulai petualangannya sejak masih kecil dengan berkegiatan diluar ruang seperti berburu dan memancing. Kepribadiannya adalah kunci dari channel ini laris dikunjungi kembali dan disubscribe oleh banyak penonton. Mike tidak hanya ramah, namun juga murah senyum, dan memiliki lantunan bahasa yang sopan, dan mudah dipahami.

Mike berdedikasi untuk membuat video dengan konten berbasis bushcraft yang akan mengedukasi penonton tentang lingkungan alam, kemampuan dasar untuk mandiri menggunakan lingkungan sekitar, dimana pengetahuan ini seharusnya diberikan sejak masih kanak-kanak. Selain itu Mike juga sering membuat konten tentang perburuan hewan liar beserta tips-tips dan cara mengolahnya.

Gaya penyampaian Mike tentang materi-materinya adalah tidak hanya berfokus pada alat dan perlengkapan saja, namun lebih kepada pengetahuan terperinci dan ilmiah tentang lingkungan sekitar, semua sumber daya yang dapat dimanfaatkan dengan tanpa merusak kelestariannya.

https://www.youtube.com/watch?v=jTUgBNxzYu8
 


Itu tadi adalah Rekomendasi Channel Youtuber Bushcraft Berkualitas. Bagi para pecinta bushcraft, selain membaca buku tentang bushcraft, video pada channel-cannel ini akan membawa kita ke dalam pembelajaran yang juga menghibur. Sedangkan para pencinta kegiatan luar ruang yang ingin mengenal bushcraft, video-video dalam channel-channel tersebut akan memberi kita pembelajaran dan tutorial instan serta prakteknya dengan kualitas yang terbaik.

Sebetulnya masih banyak sekali channel-channel youtube bushcraft lain yang juga berkualitas. Namun kali ini seberanda mengulas 4 dari sekian banyak channel yang bertebaran, dimana 4 channel ini adalah channel favorit saya. Semoga bisa menjadi tambahan ilmu untuk kita. Selamat menonton!

    Rekomendasi Channel Youtuber Bushcraft Berkualitas

    https://craftandlore.com/blogs/journal/tagged/bushcraft 

    Definisi Bushcraft

    Bushcraft dilihat dari bahasa diambil dari Bahasa Inggris, bush artinya semak, dan craft artinya keterampilan. Bush sendiri bisa jadi diambil dari Bahasa Belanda yaitu bosch yang berarti koloni Belanda yang daerahnya terdiri hutan, semak-semak dan wilayahnya masih alami, liar serta belum dikelola secara modern.

    Bushcraft dipopulerkan secara luas di acara televisi di wilayah selatan garis ekuator oleh Les Hiddins (the Bush Tucker Man), sedangkan di wilayah utara garis ekuator dipopulerkan oleh instruktur dan penulis Mors Kochanski. Selanjutnya diikuti dengan kepopuleran Ray Mears di Britania Raya dengan acara televisinya tentang bushcraft, survival dan woodcraft.

    Dari perkembangan populernya bushcraft dan aktivitas rekreasi di alam bebas maka muculah perluasan makna. Namun dilihat dari makna yang menyeluruh, bushcraft memiliki arti yaitu keterampilan hidup di alam bebas. Alam bebas dalam hal ini cakupannya luas sekali. Tidak hanya di hutan saja atau di lingkungan gurun.




    Primitive Bushcraft

    Istilah bushcraft lekat dengan masyarakat primitif dan hasil-hasil budayanya di seluruh dunia sejak jaman purba. Dimana mereka bertahan hidup dan menciptakan teknologi-teknologi yang berdasar kecakapannya untuk beradaptasi di lingkungan alam bebas.

    https://laughingsquid.com/how-to-build-a-forge-blower-using-sticks-clay-fire-and-other-primitive-technology/
     
    Kita bisa mengambil beberapa teknik dari beragam suku-suku di beberapa tempat misalnya kegiatan memasak menggunakan batu yang dibakar oleh masyarakat suku-suku di Papua, teknik pembuatan senjata tajam dari batu oleh suku Aborigin, teknik pengobatan oleh suku Mentawai, penggunaan alat makan dan minum ukir dari kayu oleh masyarakat tradisional scandinavia, dll.

    Serta beberapa keterampilan lain dari jaman purba yang digunakan dalam kesehariannya seperti pembuatan api menggunakan alat fire plow, bowdrill; pembuatan alat berburu, jebakan; model-model shelter; teknik pemurnian dan cara mendapatkan air (minum); teknik pengobatan, teknik membuat benda-benda dari kayu, dll. 


    Keterampilan Dasar

    Keterampilan dasar bushcraft antara lain:
    1. Firecraft (teknik membuat api)
    2. Shelter (tempat berlindung)
    3. Water and Hydration (teknik mencari air minum)
    4. Woodcraft (teknik mengolah kayu) 
    5. Foraging/food procurement (teknik mencari makan)
    6. Hunting (berburu, melacak jejak, membuat jebakan)
    7. First Aid and Medical (teknik pengobatan)
    8. Pengetahuan mengenai tumbuhan
    9. Pengetahuan mengenai hewan
    10. Self defense (pertahanan diri dari ancaman bahaya)
     
    http://www.ravenlore.co.uk/html/cooking.html


    Perlengkapan Bushcraft

    Alat-alat bushcraft pada umumnya antara lain: 
    1. Pisau bushcraft
    2. Kapak
    3. Gergaji lipat
    4. Sekop
    5. Backpack (pada umumnya berbahan kanvas)
    6. Alat masak, contoh: nesting
    7. Kompor portable, contoh: folding firebox, propane stove, spirit burner, dll.
    8. Alat pemantik api, contoh: korek batang magnesium, flint steel, korek gas butane, dll.
    9. Tali serba guna, contoh: tali paracord, prusik, tali pramuka, dll.
    10. Alat perkemahan, contoh: tenda kanvas/tenda dome/tarp/flysheet/hammock (apabila memungkinkan dapat hanya membuat shelter alami), sleeping pad, sleeping bag, thermal blanket
    11. Dilengkapi juga dengan: survival kit, alat makan minum, tempat air minum, senter, poncho, topi, sarung tangan, sepatu trekking,   

    http://campingmastery.com/bushcraft-axe-skills-101-the-best-kept-secrets/


    Benda bermanfaat Hasil Bushcraft

    1. Firecraft: bowdrill, fireplow, steel flint
    2. Tinder: feather stick, birch bark, lumut kering
    3. Shelter: lean-to, teepee, raised bed, A-frame, debris hut
    4. Food procurement: jebakan, fishing rod, fishing hook, deadfall, bird trap, snare, fish trap
    5. Self defense: Tombak, sling weapon, ketapel
    6. Jaring untuk membawa barang bawaan
    7. Tali berbahan serat tumbuhan
    8. Tripod serbaguna, contoh: untuk memasak di atas perapian, kursi penyamaran
    9. Menara pengintaian
    10. Bushcraft base camp

    https://www.youtube.com/watch?v=Cfx6I0rajOo


    Perbedaan Pendapat

    Terdapat Perbedaan pendapat di antara penggiat alam bebas mengenai makna bushcraft. Salah satunya adalah dari segi asal-usul. Banyak yang mengira bushcraft merupakan keterampilan suku Aborigin Australia dalam mempertahankan hidupnya di gurun, ada juga yang berpendapat bushcraft merupakan keterampilan manusia primitif yang hidup di masa purba, sedangkan yang lain berpendapat bahwa bushcraft adalah keterampilan suku-suku pedalaman dalam bertahan hidup.

    Di Afrika Selatan, Belanda menyebut masyarakat daerah tersebut dengan nama boschjesman yang kini kita kenal dengan sebutan Bushman, sebagai sebutan untuk masyarakat atau suku yang tinggal di wilayah padang rumput dan semak-semak. Sedangkan di Australia, Les Hiddins (the Bush Tucker Man) mengulas tentang kegiatan masyarakat suku Aborigin dalam menjalani kesehariannya di gurun.

    Tanpa melihat lingkup asalnya entah Afrika, Australia atau manapun, dan tanpa melihat kurun waktu bahwa bushcraft merupakan keterampilan manusia purba atau modern, bushcraft pada dasarnya berfokus pada keterampilan dasar. Dimana keterampilan dasar ini diperlukan untuk bertahan hidup terutama di alam bebas.

    Persamaan diantara perbedaan-perbedaan pendapat tersebut mengenai bushcraft yaitu pada dasarnya bushcraft membahas mengenai cara bertahan hidup dengan berbekal keterampilan dasar yaitu shelter/tempat berlindung, fire crafting/teknik pembuatan api, foraging/mencari makan, dan water processing/teknik mendapatkan air minum.

    Sehingga di alam bebas mana pun berada, misal di hutan, gunung, gurun, laut, padang rumput, sungai atau di manapun, saat alat dan fasilitas untuk bertahan hidup di lingkungan tersebut terbatas, kita masih bisa memenuhi kebutuhan dasar kita.
     
    https://www.youtube.com/watch?v=TVLrOkSMmjg


    Kaitan dengan Survival

    Bushcraft memiliki kaitan yang sangat erat dengan survival. Bushcraft adalah keterampilan hidup di alam bebas, sedangkan survival adalah teknik bertahan hidup di keadaan terbatas, bahaya atau darurat. Ruang lingkup survival tidak hanya di alam bebas saja, namun survival memiliki lingkup yang sangat luas.

    Ruang lingkup survival antara lain seperti bertahan hidup saat berada di reruntuhan gedung, cara meloloskan diri ketika terperangkap di lift, menyelamatkan diri saat terjebak kebakaran, bertahan hidup setelah terjadi bencana dan masih banyak yang lain.

    Survival memiliki lingkup yang menyeluruh, sedangkan bushcraft terdapat di dalamnya. Sehingga bila digambarkan dalam bentuk diagram di atas akan terlihat bahwa bushcraft dan survival memiliki kaitan yang erat namun tidak semua jenis survival adalah bushcraft.

    Bushcraft: Keterampilan Hidup di Alam Bebas

    tali gelang strap jam tangan watch paracord diy survival bushcraft pendaki pendakian

    Jam tangan kita memiliki gelang atau strap yang terkadang tidak terbuat dari bahan yang kuat, sehingga mudah rusak atau bahkan putus. Jam tangan saya sendiri sempat putus karena memang terbuat dari bahan semacam karet. Selain itu karena memang umurnya sudah relatif lama dan selalu saya gunakan di manapun. Ketika gelang atau strap jam tangan kita rusak, kita akan kebingungan dengan apa kita akan mengganti gelang atau strap jam kita.

    Beberapa orang ada yang mengganti gelang atau strapnya dengan membeli yang baru, namun ternyata gelang atau strap jam tersebut tidak selalu cocok dengan angan kita. Kadang juga kita tidak menemui strap yang cocok dengan bentuk dan sistem engsel jam kita. Saya sendiri mencari pengganti strap di toko jam namun tidak ada yang cocok dengan sistem engsel jam saya yang terbilang unik. Saya juga berburu di pusat belanja online tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.

    Hingga saya terhenti di artikel yang menjelaskan penggunaan paracord untuk menjadi pengganti gelang atau strap jam tangan. Ternyata tali paracord tidak hanya bisa dimanfaatkan menjadi gelang penambah gaya kita saja. Gelang paracord atau gelang survival bisa diaplikasikan menjadi gelang atau strap jam tangan kita. 


    Paracord sendiri adalah tali serbaguna yang memiliki ciri khas kuat, lemas, mudah diaplikasikan untuk fungsi apa saja. Banyak penggiat outdoor yang sangat tergantung dengan tali ini. Karena dengan berbagai kelebihannya tersebut, tali paracord mempunyai keluwesan untuk digunakan pada aplikasi di berbagai macam kebutuhan. Untuk aplikasi apa saja yang dapat digunakan untuk memanfaatkan tali paracord bisa dibaca di artikel sebelumnya: Berkenalan dengan Tali Paracord

    Itu tadi adalah sedikit penjelasan mengenai tali paracord. Kali ini seberanda akan membagikan Cara Membuat Gelang/Strap Jam Tangan Berbahan Paracord.



    1. Sediakan Bahan

    Sediakan jam tangan tanpa gelang/strap, tali paracord sepanjang 1.5m atau bisa dilebihkan sesuai kebutuhan, selanjutnya sediakan model gelang, serta buckle. Buckle bisa didapat dari tas, helm atau dari benda lain yang tidak terpakai. Namun apabila ingin memakai buckle dengan berbagai model yang lebih baik dapat dibeli di toko perlengkapan asesoris paracord atau toko-toko outdoor dan toko online.

    tali gelang strap jam tangan watch paracord diy survival bushcraft pendaki pendakian



    2. Siapkan Pola

    Dalam hal ini saya membuat model yang paling mudah yaitu model anyaman. Pola ditata sedemikian rupa dengan melilit-lilitkan paracord ke buckle, jam, dan membuat simpul di salah satu buckle.

    tali gelang strap jam tangan watch paracord diy survival bushcraft pendaki pendakian



    3. Ukur dan Coba

    Pasangkan pola tersebut dengan sangat hati-hati ke tangan kita, cobalah untuk melonggarkan sedikit ukurannya karena pola tersebut nantinya akan terisi anyaman paracord.

    tali gelang strap jam tangan watch paracord diy survival bushcraft pendaki pendakian



    4. Mulai Menganyam

    Mulailah menganyam dengan teliti dan rapi. Tidak semua orang dapat membuat anyaman yang rapi saat percobaan pertama. Apabila kurang rapi atau terlalu kendor, cobalah mengurai kembali dan anyam lagi beberapa kali hingga menemukan cara yang nyaman.

    tali gelang strap jam tangan watch paracord diy survival bushcraft pendaki pendakian



    5. Menyeberang ke Sisi Selanjutnya

    Selesaikan anyaman dengan menyeberangkan paracord dari sisi pertama ke sisi kedua dengan melewatkan paracord dari pinggir jam. Setiap model jam memiliki bentuknya masing-masing. Improvisasi adalah kunci terbaik untuk melanjutkan ke sisi selanjutnya.

    tali gelang strap jam tangan watch paracord diy survival bushcraft pendaki pendakian



    6. Kencangkan Tiap Anyaman

    Tarik sedikit-demi sedikit tiap anyaman agar kita mendapatkan ukuran lebar yang sama dan rapi antara ujung keujung gelang.

    tali gelang strap jam tangan watch paracord diy survival bushcraft pendaki pendakian



    7. Rapikan Kedua Ujungnya

    Rapikan ujung-ujung paracord dengan membakarnya sedikit dan menekannya hingga berbentuk tumpul agar paracord tidak terurai. Lalu terakhir diselipkan pada anyaman agar terlihat rapi dari sisi luar.

    tali gelang strap jam tangan watch paracord diy survival bushcraft pendaki pendakian



    8. Selesai

    Jam tangan dengan gelang atau strap paracord sudah siap diajak berkegiatan luar ruang atau kegiatan sehari-hari atau sekedar digunakan untuk bergaya.

    tali gelang strap jam tangan watch paracord diy survival bushcraft pendaki pendakian



    Itu tadi adalah Cara Membuat Gelang/Strap Jam Tangan Paracord. Saya dulu tidak langsung mendapat gelang dengan bentuk yang rapi saat percobaan pertama. Saya selalu merasa kurang puas dan ingin mengulangnya lagi. Improvisasi dan latihan adalah proses yang akan membuat kerajinan ini menjadi semakin baik di setiap percobaan. Kita juga bisa menjajal pola anyaman atau bentuk lain. Selamat mencoba!



    tali gelang strap jam tangan watch paracord diy survival bushcraft pendaki pendakian



    tali gelang strap jam tangan watch paracord diy survival bushcraft pendaki pendakian

    Cara Membuat Gelang/Strap Jam Tangan Paracord

    www.catatanhariankeong.com

    Gunung Argapura sering dieja Gunung Argopuro oleh sebagian besar masyarakat. Gunung ini merupakan gunung api yang sudah istirahat atau bisa disebut gunung berapi tidak aktif. Berlokasi di Provinsi Jawa Timur, gunung ini memiliki ketinggian yaitu setinggi 3.088mdpl.

    Tepatnya berada di antara beberapa kabupaten yaitu Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Jember, Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Situbondo.

    Gunung ini bertempat di kawasan Suaka Margasatwa Pegunungan Hyang. Sehingga kawasan ini sering juga disebut kawasan Hyang-Argopuro. Deretan Hyang-Argopuro mendominasi wilayah yang di sekitarnya terdapat Gunung Raung dan Gunung Lemongan. Tepat dilokasi ini terdapat jajaran lembah-lembah sedalam 1.000m.

    Gunung Argopuro memiliki ciri khas yang menjadi kondang di antara para pendaki, yaitu panjang rute pendakiannya yang terbilang diatas rata-ratarute pendakian di Jawa. Walau dengan ketinggian 3.088mdpl, Gunung Argopuro memiliki rute sejauh 63km. Sehingga rute pendakian gunung ini dikenal sebagai rute pendakian terpanjang di Jawa.

    Gunung ini memiliki beberapa puncak diantaranya yaitu Puncak Rengganis atau dengan sebutan lain Puncak Welirang. Kemudian puncak tertingginya berada di arah arah selatan dengan jarak sekitar 200m dari Puncak Rengganis. Puncak tertinggi Gunung Argopuro tersebut memiliki nama Puncak Argopuro. Terdapat pula satu puncak yang letaknya berdekatan dengan Puncak Argopuro yaitu Puncak Arca.

    http://adventurewisata.blogspot.co.id/2017/01/wisata-gunung-argopuro.html

    Puncak Rengganis sendiri berada di kawasan Kabupaten Jember. Konon menurut cerita masyarakat sekitar, di Puncak Rengganis bersemayam Dewi Rengganis, adik dari Nyi Roro Kidul.

    Seperti yang sudah dikenal sebagai Gunung yang memiliki rute terpanjang di Jawa, Gunung Argopuro banyak dikunjungi pendaki yang memang haus akan jalur panjang. Jalur pendakian menuju Gunung Argopuro terdiri dari 2 jalur yaitu:
    1. Jalur Bremi, dimulai di Desa Bremi Kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo
    2. Jalur Baderan, dimulai di Desa Baderan Kecamatan Sumbermalang Kabupaten Situbondo
    Kebiasaan para pendaki Gunung Argopuro yaitu jika mendaki selalu lintas jalur. Jika berangkat via Bremi maka pulang via Baderan. Sebaliknya jika berangkat via Baderan maka pulang via Bremi.

    Selain puncak, ada beberapa lokasi yang menjadi atraksi di sepanjang jalur pendakian Gunung Argopuro. Di jalur Bremi terdapat: Perkebunan Ayer Dingin, Danau Taman Hidup, Hutan Lumut, Kali Putih, Sicentor dan Rawa Embik. Sedangkan di jalur Baderan terdapat: lembah Cikasur, Sicentor dan Rawa Embik. Di Lembah Cikasur terdapat bekas pembangunan bandara penerbangan yang dibangun pada masa penjajahan Belanda.

    http://www.pecintaalam.net/gunung-argopuro/
    Danau Taman Hidup

    Source: Intisari artikel, gambar 1, gambar 2, gambar 3

    Gunung Argapura


    http://adventurewisata.blogspot.co.id/2015/10/perjalanan-dan-mitos-menuju-puncak-raung.html

    Gunung Raung adalah gunung berapi yang terletak di Jawa Timur. Secara wilayah, Gunung Raung terletak di antara beberapa Kabupaten yaitu Besuki, Jember dan Bondowoso. Gunung yang memiliki ketinggian 3.344mdpl ini terletak dalam gugusan Pegunungan Ijen serta menjadi lokasi tertinggi di antara pegunungan tersebut.

    Dilihat dari ketinggiannya, Gunung Raung menempati peringkat ke-2 tertinggi setelah Gunung Semeru dalam lingkup Jawa Timur, sedangkan dalam lingkup Pulau Jawa Gunung Raung menempati peringkat ke-4. Gunung Raung juga merupakan salah satu diantara beberapa gunung di Indonesia yang memiliki kaldera yang luas. Kaldera tersebut memiliki kedalaman sedalam 500m.

    Kaldera Gunung Raung merupakan kaldera kering terluas ke-2 di Indonesia setelah kaldera Gunung Tambora di NTB (Nusa Tenggara Barat). Kaldera tersebut pada umumnya terbentuk atas sebuah ledakan berapi yang sangat dahsyat hingga meruntuhkan puncak utamanya. Sama seperti proses pembentukan kaldera di beberapa gunung di tempat lain.

    Sebagai gunung yang memiliki kaldera, Gunung Raung memiliki beberapa puncak yang terletak di pinggiran kalderanya. Puncaknya terdiri dari empat titik. Puncak yang pertama yaitu Puncak Bendera, Puncak 17, Puncak Tusuk Gigi, dan puncak tertingginya yaitu Puncak Sejati.

    http://pojokpitu.com/baca.php?idurut=2032&&top=1&&ktg=Jatim&&keyrbk=Peristiwa&&keyjdl=Gunung

    Berikut ini adalah sejarah letusan Gunung Raung sejak awal tercatat hingga terakhir meletus:
    1. 1986
    2. 1593-1903 :
      1804, 1812-1814, sekitar tahun 1815, 1817, 1838, 1849, 1859, 1860, 1864, 1881, 1885, 1890, 1896, 1897, 1902, dan 1903
    3. 1913
    4. 1915-1924 :
      1915, 1916, 1917, 1921, 1924, dan 1924
    5. 1927-1928
    6. 1928-1999 :
      1928, 1929, 1933, 1936, 1937, 1938-1939, 1940, 1941, 1943, 1944-1945, 1953, 1955, 1956, 1971, 1973, 1974, 1975, 1976, 1977, 1978, 1982, 1985, 1987-1989, 1990, 1991, 1993, 1994, 1995, 1995(?), 1997, dan 1999
    7. Juli 2000
    8. Juni-Agustus 2002
    9. April-Oktober 2004
    10. Juli-Agustus 2005
    11. Agustus 2007
    12. 19 Oktober 2012
    13. Juli 2015

    Gunung Raung memiliki ciri letusan kecil namun terus menerus mengeluarkan pijar dan materi vulkanik. Letusan semacam ini disebut juga dengan tipe letusan Strombolian. Kawah Gunung Raung memiliki sistem kawah yang terbuka, yang menyebabkan lava pijar yang dihasilkan akan kembali ke dalam kawah dan kecil kemungkinannya meluber ke luar kaldera.

    Gunung Raung termasuk salah satu dari beberapa Gunung di Indonesia yang menjadi primadona bagi para pendaki karena kecantikan alamnya. Ada beberapa jalur pendakian di antaranya:
    1. Jalur pendakian via Kalibaru
    2. Jalur pendakian via Sumberwaringin / Waringin
    3. Jalur pendakian via Glenmore

    http://www.manusialembah.com/2015/08/pendakian-puncak-sejati-gunung-raung.html


    Dengan medan yang sangat menantang dan sangat berbahaya, serta wajib didukung dengan peralatan khusus, maka pendakian menuju puncak Gunung Raung sering disebut pendakian yang paling ekstrim di Pulau Jawa. Disarankan agar menggunakan jasa guide yang berpengalaman dan menyertakan peralatan yang lengkap disesuaikan dengan medan pendakian agar keselamatan dapat lebih terjamin.

    Source: Intisari artikel, gambar 1, gambar 2, gambar 3

    Gunung Raung

     
    Gunung Penanggungan merupakan gunung yang berada di wilayah Mojokerto Jawa Timur. Berbentuk kerucut dan hampir serupa dengan Gunung Semeru namun dengan ukuran yang lebih kecil. Maka dari itu gunung ini sering disebut sebagai miniatur Gunung Semeru. Walau ‘kecil’, gunung ini tidak bisa diremehkan begitu saja.

    Karena saya baca-baca di artikel blog kebanyakan diantara mereka menyesal karena pertama kali mendaki Gunung Penanggungan dan menganggap bahwa perjalanan akan mudah karena Gunung ini termasuk gunung yang 'kecil' dibanding dengan gunung-gunung yang lain di Jawa Timur.

    Terlebih ketinggiannya yang setinggi 1653mdpl tidak setinggi Gunung Semeru yang tembus hingga 3676mdpl. Maka dari itu jangan pernah sekalipun kita meremehkan gunung manapun walau ukurannya ‘kecil’ (hehe).

    Oiya, postingan ini merupakan perjalanan yang sudah terlaksana sejak lama, namun baru sempat diposting sekarang. Waktu itu kami bertiga, saya, Alin dan Eki berencana melakukan perjalanan yang bertepatan dengan momen tahun baru 2016 ke Gunung Penanggungan. Alin merupakan teman dekat rumah dengan saya yang sudah beberapa kali bersama melakukan perjalanan ke gunung satu ke gunung yang lain. Sedangkan Eki adalah pemuda dari Pulau Kangean yang sama-sama kuliah di tempat yang sama dengan saya.


    Persiapan sebelum mendaki Gunung Penanggungan via Tamiajeng

    Waktu itu saya dan Alin berposisi di Pare Kediri, sedangkan Eki berada di Malang. Sehingga kami hanya bisa berkoordinasi melalui media telepon seluler saja (Halah sok formal telepon seluler, HP ngono lho mas). Kami sepakat berangkat pada Hari Jum’at, 1 Januari 2016. Persiapan dan pemberangkatan kami lakukan di 2 kota yang saling berjauhan yaitu dari Kediri dan dari Malang. Sedangkan meeting point nya kami tentukan di Kota Batu Malang atas berbagai alasan.

    Ngomong-ngomong, kami sudah memantapkan diri untuk mendaki Gunung Penanggungan via Tamiajeng. Karena jalur ini adalah satu-satunya jalur yang resmi diantara beberapa jalur-jalur pendakian yang lainnya. Terlebih diantara kami belum ada yang pernah menjejakkan kakinya di jalur pendakian manapun di Gunung Penanggungan. Sehingga kami tidak mau aneh-aneh lewat jalur lain yang belum resmi.


    Berangkat menuju Kota Batu

    Dengan bersepeda motor, saya dan Alin berangkat dari Pare menuju Kota Batu pada pukul 11.00. Kami tidak langsung ke arah Mojokerto karena Eki minta dijemput di Kota Batu agar bisa berangkat bareng-bareng katanya. Tujuan lainnya juga agar kami tidak bingung saling mencari saat sudah sampai di lokasi pos pendakian.

    Pukul 11.45 saya dan Alin tiba di Masjid sekitar jembatan Bendosari Pujon untuk melakukan ibadah sholat Jum’at. Masjidnya nyaman walau tidak terlalu besar, kami lupa nama masjidnya apa. Tapi pemandangan dari tempat wudhunya bagus sekali, kita bisa melihat aliran sungai besar di belakangnya dengan latar belakang tebing yang tinggi dihiasi 1 air terjun yang membuat pemandangan jadi lebih menyegarkan.

    Pukul 01.00 kami selesai melakukan Sholat Jumat kemudian melanjutkan perjalanan ke Kota Batu. Pukul 02.30 kami tiba di Alun-alun Kota Batu sebagaimana yang sudah disepakati sebelumnya. 30 menit kami menunggu akhirnya bertemu juga dengan Eki. Sebelum melanjutkan ke Mojokerto, kami mencari asupan gizi dulu di Alun-alun Kota Batu ini. Kami pun sepakat untuk beli makan di foodcourt di salah satu sudut alun-alun.

    Sambil istirahat, makan dan ngobrol kami akhirnya siap berangkat menuju Mojokerto pada pukul 04.00. Langit arah Mojokerto begitu mendung, tapi kami sudah mempersiapkan segala sesuatunya apabila terjadi hujan di perjalanan nanti. Tips-tips untuk mempersiapkan perjalanan pendakian ketika hujan dapat dibaca di artikel sebelumnya di sini: Tips Mendaki Ketika Hujan.


    Berangkat ke Tamiajeng Lewat Batu – Cangar – Pacet

    Dengan yakin kami berangkat menuju Mojokerto walau melihat langit yang begitu mendung. Kami menuju Mojokerto melewati jalur tembusan dari arah Kota Batu langsung ke arah Pacet Mojokerto. Di perjalanan tersebut ternyata benar dugaan kami. MACETTT!! Tapi ya mau bagaimana lagi karena memang saat itu bertepatan dengan liburan tahun baru, ya diterima syajalah. Sepanjang perjalanan sore ini kami disuguhi dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Di antaranya ada ladang sayur, kebun buah, wisata pemandian air panas Cangar, hutan, dll.

    Di salah satu lokasi istirahat yang lumayan ramai orang berhenti, kami menyempatkan diri untuk ikut berhenti sejenak, mengamati sekitar ternyata ada salah satu spot untuk melihat pemandangan jajaran Pegunungan Anjasmoro yang terlihat begitu indah. Di sini juga terdapat tanjakan dan turunan yang menurut saya agak berbahaya saat dilewati karena selain curam, tanjakan dan turunan ini begitu patah pada belokannya (hampir 180 derajat memutar).


    Pemandangan Pegunungan Anjasmoro di arah utara barat


    Tiba di Pos Perijinan Pendakian Gunung Penanggungan via Tamiajeng, Lanjut Berangkat!

    Setelah berfoto ria dan menikmati pemandangan sejenak, kami lanjutkan perjalanan menuju Mojokerto via Pacet. Dari lokasi tersebut menuju desa Tamiajeng kira-kira perjalanan masih 1 jam lagi. Perjalanan begitu lancar kecuali ada kecelakaan pengendara matic, bapak-bapak membonceng ibu-ibu yang sempat menyalip saya di turunan yang curam dengan kecepatan yang tinggi. Kami sarankan ekstra hati-hati ketika melalui jalur antara Cangar - Pacet, karena jalur ini didominasi dengan banyaknya turunan-turunan curam.

    Pukul 05.30 kami tiba di Pos Perijinan Pendakian Gunung Penanggungan Jalur Pendakian Tamiajeng. Di sana kami memarkir sepeda motor dengan tarif kira-kira Rp.3.000 kalau tidak salah (sekarang sudah naik harganya menjadi Rp.5.000 per motor). Selanjutnya kami langsung daftar di pos perijinan, kami diberi pengarahan, penjelasan tentang bahaya dan ancaman bencana (angin atau petir di puncak), pantangan-pantangan, serta teknis jalur yang akan di lalui. Sebagai pendaki yang ingin menjadi pendaki teladan, kami dengarkan saja pengarahan tersebut dengan baik sebagaimana yang tertulis di beberapa tips yang harus dilakukan agar bisa menjadi pendaki teladan di artikel yang ini: Tips Menjadi Pendaki Teladan.

    Sore itu di Pos Perijinan Pendakian Gunung Penanggungan via Tamiajeng

    Selanjutnya kami diberi kantong plastik sebagai wadah sampah (Selalu ingat, bawa turun sampahmu walau hanya sampah pribadi!). Sekitar pukul 05.45 kami berangkat menuju pos 2 (pos 1 ya pos perijinan tersebut). Perjalanan sedikit santai di mana medan didominasi batuan terjal makadam selama 30 menit hingga kita tiba di pos 2.

    Pos 2 memiliki area yang luas. Tersedia tempat-tempat istirahat untuk pendaki. Beberapa warung juga siap melayani para pendaki selama 24 jam. Di sana kami lakukan ibadah sholat maghrib. Kemudian istirahat sejenak sambil membeli beberapa gorengan yang masih hangat.

    Perjalanan kami lanjutkan agar tidak terlalu malam saat tiba di spot camp nanti. Medan antara pos 2 dan 3 diawali tanjakan, jalan landai sedikit, kemudian lanjut tanjakan dan tanjakan ramah namun stabil. Di kiri dan kanan didominasi pepohonan khas kebun belakang rumah (hehehe..menurut saya sih..). Banyak terdapat pohon-pohon yang familiar bagi saya seperti pohon mangga, pohon nangka, talas, dll.


    Perjalanan Pendakian Gunung Penanggungan via Tamiajeng dihiasi Hujan, PARAH!

    Tiba di pos 3 kami hanya istirahat sebentar saja karena jarak antara pos 2 dan 3 yang berdekatan. Selanjutnya kami lanjutkan perjalanan menuju pos 4. Jarak antara pos 3 dan pos 4 lebih jauh dan tanjakan mulai terjal. Hujan grimis pun mulai turun. Kami berhenti sejenak di tengah jalan untuk mempersiapkan diri menghadapi hujan deras. Membungkus daypack dengan cover, dan memakai mantel sakti anti hujan.

    Medan licin antara pos 3 dan 4. Gambar diambil waktu perjalanan pulang

    Tiba di pos 4 kami istirahat agak lama karena di sini banyak pendaki-pendaki yang istirahat, kami manfaatkan dengan mengobrol dan berbagi cerita dengan kenalan-kenalan baru di sini. Pukul 07.00 tepat kami melihat jam dan mendengar suara adzan Isya. dari kejauhan terlihat lampu-lampu senter pendaki-pendaki di jalur pendakian Gunung Arjuno dan Welirang. Memang Gunung Penanggungan letaknya berdekatan dengan Gunung Arjuno dan Welirang. Sehingga lampu-lampu senter di jalurnya pun bisa jadi terlihat dari sini di malam hari.

    Perjalanan kami lanjutkan dan hujan menjadi semakin deras dan deras. Tanjakan juga semakin terjal dan licin untuk dilalui. Vegetasi juga sudah mulai terbatas. Mulai banyak bebatuan di jalur ini. Dan tiba-tiba, “Bruukkk..srooottt..sroott..” saya terjatuh dan tergelincir ke bawah tertelungkup. Kami pun tertawa. Cara berjalan saya kurang baik karena saya bawa daypack dengan volume terbatas, sehingga tenda harus saya bopong seperti menggendong bayi. Setelah ditolong Alin dan Eki, saya berhasil bangkit dan tidak terluka apa-apa.


    Puncak Bayangan, Masih juga Hujan

    Perjalanan menjadi semakin menanjak dan membuat kami semakin sengsara karena kami sudah dalam keadaan lembab dan kedinginan. Akhirnya pukul 09.00 kami tiba di pos 5 atau lokasi Puncak Bayangan. Di sini para pendaki umumnya mendirikan tenda untuk menginap, istirahat, menaruh barang, atau bahkan ada yang melanjutkan ke puncak dan ngecamp di sana. Kami yang pendaki pas-pas-an ini lebih memilih ngecamp di Puncak Bayangan saja, menikmati malam dan beristirahat untuk melanjutkan perjalanan lagi keesokan harinya.

    Tenda sudah berdiri, kami lanjut membuat minuman hangat dan masak mie. Kami nyemil gorengan sambil merencanakan perjalanan selanjutnya. Kemudian bergantian sholat Isya lalu tidur..zzzZZ..


    Salah satu sudut lokasi camp di Puncak Bayangan

    Pemandangan Puncak Penanggungan dilihat dari Puncak Bayangan


    Subuh Tiba, Summit Attack, Puncak! Yes!

    Pukul 03.00 saya terbangun karena ternyata banyak nyamuk (lho kok bisa, hehe.. ya bisa pokoknya, saya juga bingung). Kemudian tertidur lagi dan bangun sekitar pukul 04.00. Saya membangunkan Alin dan Eki yang pulas tidur. Kami segera bersiap untuk summit attack. Perkiraan jika berangkat pukul 04.30 pun kami masih dapat sunrise di puncak. Kami pun sholat dulu, menyiapkan logistik, mengamankan tenda, lalu berangkat muncak.

    Perjalanan semakin ke atas semakin terjal dan terjal. Sudah tidak ada lagi pepohonan di sepanjang jalur menuju puncak. Hanya ada rerumputan yang paling tinggi hanya setengah meter. Jalur didominasi dengan batuan-batuan kerikil hingga batu besar yang terkadang dapat tergelincir saat diinjak. Kemiringan hampir 45 derajat membuat kami ngos-ngos-an. 1 jam lebih sedikit kami berjalan dengan susah payah akhirnya tiba juga di puncak pukul 05.35.

    Sudah terang namun matahari belum muncul. Sepertinya di ufuk timur ada mendung sehingga menghalangi sinar matahari terbit. Hingga pukul sekian matahari masih malu-malu juga, yasudah kami berfoto-foto saja alakadarnya di sekitaran puncak tanpa matahari terbit. Tak terasa pukul 06.30 matahari baru muncul, sinarnya mengahangatkan kulit yang dari sejak dini hari sudah kedinginan diterpa angin malam.

    Sunrise yang malu-malu tapi mau. Halah



    Bukan setengah tiang lho ya, tiangnya aja itu yang ditambahin

    Kami sarapan dengan jajanan seadanya dan minum sedikit, karena stok air yang terbatas. Oiya, tidak lupa kami ingatkan sama sekali tidak ada sumber air selama di jalur pendakian Gunung Penanggungan, kecuali di warung pos 2 tersedia air mineral yang dijual di sana.


    Turun Puncak Pelan-Pelan Super Hati-Hati, Istirahat di Tenda di Puncak Bayangan

    Sudah puas berfoto-foto dan menghangatkan badan, pukul 07.00 kami turun ke camp. Harus hati-hati saat turun dari puncak, karena batu-batuan kerikil rawan menyebabkan kita terpeleset. Di medan dan kemiringan seperti ini bisa saja terjadi kecelakaan yang fatal. Beberapa waktu sebelumnya terjadi kecelakaan pendaki yang turun dari puncak karena terpeleset batu kerikil.


    Santai di atas batu

    Pukul 08.00 kami baru sampai di camp Puncak Bayangan karena sepanjang jalan kami berjalan dengan sangat hati-hati dan diselingi dengan berfoto riaaa (hehe). Di camp kami beristirahat dan membuat makanan sebagai asupan untuk turun gunung nantinya. Sambil santai dan sarapan kami kemudian bersiap untuk turun. Pukul 09.00 kami sudah siap berpamitan dengan Puncak Penanggungan dan Puncak Bayangan.

    Selama perjalanan turun, kami diharuskan berjalan pelan dikarenakan jalan begitu licin dan agak berlumpur akibat hujan deras semalam, sehingga akan menyita banyak waktu kami. Tidak apa-apa yang penting perjalanan pulang bisa selamat sampai tujuan.

    Tidak lama kami beristirahat di antara pos-pos peristirahatan karena cuaca tidak terlalu terik sehingga membuat badan kami merasa sejuk dan tidak terlalu lelah. Namun kaki terasa begitu pegal karena jalanan menurun tak kunjung habis (dasar kaki manja! hehe).


    Sampai di pos perijinan Pendakian Gunung Penanggungan via Tamiajeng, Leganya, Tapi Kaki Lemas

    Tepat pukul 12.30 kami tiba di pos 1 untuk melapor. Setelah itu kami beristirahat di warung dekat pos dan membeli soto. Betapa nikmatnya makanan tersebut hingga kami merasa begitu puas. Sambil bergantian, saya, Eki, dan Alin mandi kemudian sholat Dhuhur.

    Kami bersantai di sini agak lama karena tempat yang nyaman dan fasilitas yang cukup memanjakan kami pendaki Gunung Penanggungan. Ada kamar mandi yang banyak, musholla, warung makan dengan menu pilihan yang beragam, tempat istirahat yang luas, area parkir yang aman, yaa intinya kami kerasan lah! Hehehe, jadi males pulang terlebih juga karena rumah kami yang agak jauh di sana.

    Hingga tiba pukul 02.30 kami sudah bersiap pulang ke kota masing-masing. Eki langsung pulang ke Malang lewat jalur jalan raya Mojokerto - Pasuruan. Sedangkan saya dan Alin pulang lewat jalur Mojosari. Kami pun tiba di Pare Kediri pukul 06.00 dengan selamat. Selesai.

    Kondisi setelah mandi, wangi dan segar seperti semula

    Bonus

    Bonus lagi

    Lagi-lagi Bonus

    Pendakian Gunung Penanggungan via Tamiajeng

    PARACORD

    Paracord (Parachute Cord) adalah salah satu jenis tali serbaguna yang dibuat untuk berbagai kebutuhan. Dapat digunakan sebagai tali apa saja karena tali paracord memiliki kekuatan yang baik. mudah digunakan karena lemas dan bertekstur lembut. Pada kualitas yang paling baik bahkan tali paracord memiliki kelenturan dan kekuatan yang lebih baik, serta tidak mudah terurai.



    FUNGSI

    Fungsi dari paracord pada awalnya yaitu digunakan oleh militer selama Perang Dunia II. Elastisitas kabel dan kemampuannya untuk menahan berat yang besar membuatnya menjadi alat yang sangat berguna saat itu.

    Tali paracord juga sering dijadikan salah satu unsur dalam perlengkapan survival-kit. Tali ini dapat dipakai bagi mereka yang sedang berpetualang di luar ruangan dan sangat berguna untuk dapat digunakan dalam situasi darurat.


    MANFAAT

    Beberapa manfaat menggunakan tali paracord untuk situasi darurat antara lain:
    1. Tali serba guna untuk mendirikan shelter: tarp, bivak
    2. Membuat hammock
    3. Jebakan hewan buruan
    4. Jaring untuk menangkap ikan
    5. Pelengkap alat membuat api (bow drill)
    6. Jaring-jaring untuk membawa alat-alat bawaan
    7. Benang untuk memancing ikan (diambil seratnya lalu dipasangkan kail)
    8. Menyambung kayu untuk membuat kursi penyamaran, tripod memasak, dll.
    Namun akhir-akhir ini kalangan kreatif mulai memanfaatkan tali paracord untuk menjadi keterampilan-keterampilan seperti gelang, gantungan kunci, sabuk, kalung, dan masih banyak lagi yang lain.

    Sempat menjadi tren beberapa waktu sebelumnya yaitu tali prusik untuk berbagai fungsi, namun paracord lebih dilirik para pecinta kegiatan di alam karena ciri khas tali ini yang lemas tidak seperti prusik yang cenderung keras atau kaku. Gelang prusik sudah mulai digantikan tren nya menjadi gelang paracord.


    JENIS-JENIS KERAJINAN DARI TALI PARACORD

    1. Gelang

     


    2. Kalung




    3. Gantungan Kunci

     



    6. Kerajinan Lain





    Itu tadi adalah penjelasan mengenai tali paracord, fungsi, manfaat, hingga aplikasinya dalam kreatifitas. Sebagai penggiat alam bebas, tidak ada salahnya apabila kita mengenakan paracord sebagai asesoris penambah gaya, namun yang wajib bagi saya adalah selalu membawa paracord gulung cukup sepanjang 3-5m sebagai antisipasi apabila dibutuhkan pada saat-saat tertentu saat berkegiatan di luar ruang.

    Berkenalan dengan Tali Paracord